Wednesday, April 30, 2014

Dampak Baik dan Buruk Perekomian Indonesia Pada Saat Pemilihan Umum/Legislatif 2014

Baik dan Buruk Perekomian Indonesia, Baik dan Buruk Perekomian Indonesia Pasca Legislatif, harga Baik dan Buruk Perekomian Indonesia 2014, apa itu Baik dan Buruk Perekomian Indonesia, Dampak dari Adanya legislatif, pengaruh legislatif dari Baik dan Buruk Perekomian Indonesia
Sebelumnya admin sudah menjelaskan tentang Ikhwal Berdirinya Muhammadiyah Serta Visi dan Misi, dan kali ini admin akan memberikan ulasan tentang bagaimana perekomian indonesia pada saat penyelenggaraan Pemilu tahun 2014 ini.

Prospek Ekonomi Indonesia di tahun 2014 akan dipengaruhi oleh peristiwa politik besar yaitu Pemilihan Umum (Pemilu) baik Pemilu Legislatif maupun Pemilu Presiden. Namun Pemilu tersebut perannya ambigu atau bermata dua bagi ekonomi Indonesia di tahun 2014. Di satu sisi, pemilu tersebut bisa mengerem ekonomi Indonesia, tetapi di sisi lain pemilu tersebut bisa mendorong ekonomi Indonesia.

Diperkirakan, uang yang berputar dalam pemilu nanti mencapai Rp 40 tri liun. Bujet untuk KPU dianggarkan sebesar Rp 16 triliun dan sudah terpakai Rp 9,1 triliun untuk partai, Rp 8,1 triliun di KPU, dan Rp 1 triliun di Bawaslu, sedangkan sisanya diperkirakan masih sekitar Rp 1 triliun. Besarnya biaya pemilu, yang sebenarnya memakai uang masyarakat, tentunya perlu pertanggungjawaban secara tertib dan transparan dalam pemakaian dana yang begitu besar.

Perputaran uang dari para calon anggota legislatif dalam pemilu kali ini diperkirakan cukup besar. Bank Indonesia (BI) memperkirakan adanya kenaikan belanja rata-rata dari tiap-tiap calon anggota legislatif pada Pemilu 2014 dibandingkan pada Pemilu 2009. Pada 2009 lalu, rata-rata calon anggota legislatif mengeluarkan dana sebesar Rp 500 juta. Diperkirakan tahun 2014, dana yang harus dikeluarkan sebesar Rp 1,8 miliar per orang, bahkan bisa membengkak menjadi sekitar Rp 2 miliar lebih jika bersaing di wilayah strategis seperti Jakarta. Pengeluaran para calon legislatif, baik pada DPR pusat maupun daerah, sudah jauh terlihat sejak lama dalam meraih hati para simpatisan. Pemasangan baliho foto diri, pembagian kalender, pembagian buku untuk pengajian, sekaligus pengajian dan umbul-umbul kian marak saja pada berbagai tempat.

  •  Dampak Positif
Menurut perkiraaan BI, dampak Pemilu 2014 tidak akan sebesar tahun 2009. BI memperkirakan dampak pemilu terhadap pertumbuhan ekonomi pada 2014 sebesar 0,13-0,19 persen, sementara pada 2009 sebesar 0,23-0,26 persen. Pertumbuhan ekonomi tahun 2014 diperkirakan sebesar 5,8-6,2 persen. Sebabnya, meskipun pengeluaran para calon wakil rakyat menaik, jumlah peserta calon legislatif tidak sebanyak tahun 2009, demikian juga jumlah partai peserta pemilu. Jumlah calon legislatif per partai hanya 100 persen dari jumlah kursi pada Pemilu 2014, sedangkan pada Pemilu 2009 calonnya 120 persen dari jumlah kursi. Jumlah partai peserta Pemilu 2014 menyusut menjadi 12 partai nasional ditambah tiga partai lokal, sementara pada 2009 partai nasionalnya 38 ditambah enam partai lokal.
  • Dampak Negatif
Dampak negative pemilu legislative terhadap angka inflasi juga akan muncul karena pengeluaran (konsumsi) yang berlebih dari para caleg, seperti telah dikemukakan. Berita pada media massa sudah menunjukkan adanya peningkatan uang beredar semenjak awal 2014. Tekanan Pemilu 2014 terhadap inflasi diperkiran sekitar 0,3 persen sehingga angka inflasi pada tahun ini akan berkisar antara lima- enam persen. Tekanan pemilu terhadap angka inflasi memang kecil jika dibandingkan dengan kenaik an harga BBM maupun tarif dasar listrik (TDL).

Banyaknya calon anggota legislatif dan pengeluaran dana yang semakin membesar untuk dapat duduk di Senayan atau di daerah, mempunyai dampak negatif pada tingkat stres para calon anggota yang tidak terpilih. Menurut data Kemenkes pada Pemilu 2009, ada 7.736 caleg yang mengalami gangguan jiwa berat, yang diperinci sebanyak 49 orang caleg DPR, 496 orang caleg DPRD I, 4 caleg DPD, dan 6.827 orang caleg DPRD. Berbagai pihak memperkirakan pada Pemilu 2014 akan banyak caleg yang mengalami gangguan kejiwaan karena tidak terpilih menjadi wakil rakyat.

Selanjutnya, dengan pergantian pimpinan di legislatif dan eksekutif maka ada kesan kuat aka nada pergantian arah kebijakan termasuk kebijakan-kebijakan di bidang ekonomi. Di Negara-negara sedang berkembang ada pepatah yang mengatakan bahwa ganti pejabat akan ganti kebijakan pula. Hal ini berbeda dengan negara-negara maju yang sudah mapan sistem politik dan ekonominya dimana siapapun yang memerintah arah kebijakan ekonominya akan tetap. Tetapi, ada negara sedang berkembang yang masuk kekecualian dalam hal ini yaitu Thailand. Thailand terkenal dengan “Negara Kudeta” yang selalu berganti-ganti pemerintahannya. Tetapi arah kebijakan ekonominya tetap sehingga para penanam modal lebih senang dengan kondisi yang demikian daripada pemerintahannya tetap tetapi arah kebijakan ekonominya selalu berganti-ganti. Salah satu arah jelas kebijakan ekonomi misalnya pemberian Hak Guna Usaha (HGU) bagi tanah-tanah kepada investor dalam jangka waktu yang sangat panjang misalnya sampai 75 tahun.


Baik dan Buruk Perekomian Indonesia, Baik dan Buruk Perekomian Indonesia Pasca Legislatif, harga Baik dan Buruk Perekomian Indonesia 2014, apa itu Baik dan Buruk Perekomian Indonesia, Dampak dari Adanya legislatif, pengaruh legislatif dari Baik dan Buruk Perekomian Indonesia
Load disqus comments

0 komentar